Kisah Semangat Persatuan Para Pemuda Indonesia

Mengawali abad ke-20, bangsa Indonesia memulai kebangkitannya dari penjajahan yang dirasakan sejak beberapa abad sebelumnya. Sejarah mencatat, dalam beberapa tahun di awal 1900-an banyak organisasi bermunculan dan terbentuk sebagai respon atas upaya pencapaian kemerdekaan di Indonesia. Berbagai jenis organisasi pun berdiri dalam upaya menyatukan komponen-komponen bangsa Indonesia yang relatif masih bergerak sendiri-sendiri untuk memerdekakan diri dari cengkraman penjajah Belanda kala itu. Luar biasanya, berbagai gerakan dalam organisasi kebangkitan bangsa ini digerakkan oleh para pemuda yang berkesempatan mengenyam pendidikan yang tergolong tinggi pada masa tersebut. Era Sumpah Pemuda pun dimulai.

gedung-museum-sumpah-pemudaPada 20 Mei 1908 organisasi Boedi Oetomo berdiri dan menjadi perintis bangkitnya organisasi lain seperti Tri Koro Darmo hingga Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI). Walaupun secara umum organisasi-organisasi ini memiliki cita-cita yang sama untuk merdeka dari belenggu penjajahan, namun tidak dapat dipungkiri para pemuda ini masih bergerak dalam latar belakang mereka yang terkotak-kotak. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Jong Minahasa, dan lainnya. Akhirnya, pada tahun 1921 muncul sebuah gagasan untuk membentuk sebuah persatuan yang lebih besar lagi dari berbagai latar belakang organisasi pemuda ini demi terbentuknya kekuatan dan semangat kemerdekaan yang lebih dahsyat lagi. Melalui gagasan inilah, akhirnya muncul Kongres Pemuda pertama yang diadakan pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926.

pintu-depan-gedung-museum-sumpah-pemuda-indonesische-clubgebouw-yang-masih-terjaga-hingga-kini

Persatuan Indonesia tampaknya sudah sangat dekat di hadapan para pemuda Nusantara pada masa itu. Mereka menyadari bahwa Indonesia bukanlah milik sebagian kecil masyarakat dari suku-suku yang ada di Nusantara, melainkan seluruh bangsa yang sama-sama merasakan pahitnya penjajahan di Nusantara selama ratusan tahun lamanya. Para pemuda Indonesia pada masa itu pun menjadi penggerak semangat seluruh bangsa Indonesia untuk menyatukan jiwa dan raga guna mewujudkan cita-cita persatuan di Indonesia.

Semakin mantap, cita-cita mulia para pemuda Indonesia ini pun dikukuhkan dalam Kongres pemuda kedua pada tanggal 27-28 Oktober 1928 yang bertempat di Jakarta. Beberapa tokoh pemuda seperti Moh. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Theo Pangemanan, dan banyak lagi lainnya menjadi ujung tombak terselenggaranya acara akbar ini. Puncaknya, Kongres Pemuda kedua ini pun menghasilkan sebuah keputusan yang sangat bersejarah dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keputusan ini tertuang dalam sebuah sumpah untuk hidup di tanah air, sebagai satu bangsa, yang menggunakan satu bahasa, dalam satu nama Indonesia. Bahkan, lagu Kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolph Supratman pun berkumandang pertama kali dalam kongres akbar yang diadakan para pemuda Indonesia ini. Rangkaian peristiwa pada akhir Kongres 28 Oktober 1928 inilah yang kita kenal hingga kini sebagai Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak penting dalam sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa ini merupakan sebuah momentum bersatunya para pendiri Indonesia yang menentukan perjuangan bangsa Indonesia di kemudian hari hingga memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Rasanya, hampir mustahil untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada di Nusantara pada saat ini bila peristiwa Sumpah Pemuda tidak pernah terjadi dalam sejarah perjalanan Nusantara.

w-r-soepratman-memainkan-lagu-indonesia-raya-untuk-pertama-kalinya-di-hadapan-peserta-kongres-pemuda-2-di-jakarta mohammad-hatta-salah-seorang-anggota-jong-sumateranen-bond-yang-di-kemudian-hari-menjadi-wakil-presiden-republik-indonesia-yang-pertama beberapa-tokoh-pemuda-yang-menggagas-pergerakan-persatuan-para-pemuda-di-seluruh-indonesia-e1509116983935 sumpah pemuda

Sumpah Pemuda Setelah Indonesia Merdeka

Kini, sudah genap 72 tahun Indonesia meraih kemerdekaannya dari tangan para penjajah di masa lalu. Perkembangan jaman yang semakin pesat dan perubahan sosial masyarakat yang begitu cepat pun tak dapat dihindari. Namun, sejarah perjuangan Bangsa Indonesia di masa lalu dan Sumpah Pemuda sebagai salah satu titik pentingnya tetap diingat oleh segenap komponen bangsa. Sampai pada bagian ini, Sumpah Pemuda masih dalam kondisi baik dan cukup membanggakan.

Sayangnya, hal-hal positif tampaknya belum dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran sisi negatif. Seiring semakin dewasanya Indonesia, ternyata masih terdapat beberapa pihak yang tampak lebih senang ketika bangsa Indonesia berada dalam kondisi terpecah belah. Persatuan seringkali hanya muncul sebagai slogan atau kata-kata mutira belaka. Perwujudan cita-cita luhur para pendiri negara Indonesia pun ditinggalkan dalam keinginan para pihak jahat tersebut untuk menguntungkan dirinya sendiri. Kekayaan, kekuasaan, dan beberapa konsep kejayaan diri masih menjadi momok yang cukup membahayakan mulianya persatuan Sumpah Pemuda di Indonesia.

Idealnya, politik pemecah belah rakyat yang sering dilakukan oleh para penjajah di masa lampau dapat menjadi pelajaran berharga untuk tidak diulangi lagi. Namun, kenyataannya masih banyak pihak yang membiarkan ini terjadi bahkan ikut terjebak di dalam upaya memecah persatuan dan kesatuan Indonesia. Warga negara Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan antar golongan masih sering ditemui berada dalam sekat-sekat perbedaan. Naasnya, justru banyak dari kita yang seolah menikmati kondisi ini alih-alih berusaha untuk menciptakan persatuan. Politik devide et impera ala Belanda yang sering kita dengar dalam pelajaran sejarah perjuangan masa lalu sepertinya masih terjadi, bahkan berevolusi menjadi sebuah senjata ampuh untuk menghancurkan persatuan Indonesia di era yang sudah mengandalkan segala bentuk kemajuan teknologi seperti sekarang ini.

Sekarang semuanya kembali lagi kepada kita sebagai bagian dari cita-cita luhur Sumpah Pemuda di negeri ini. Seperti halnya tantangan yang diterima oleh para pemuda masa lalu, generasi muda masa kini pun kini mendapatkan kesempatan untuk memilih. Jadi, lebih baik membiarkan perpecahan semakin merajalela dalam masyarakat atau menjadi penggerak untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang jauh lebih baik lagi daripada sebelumnya?

Merdeka, Salam Sumpah Pemuda!

Leave a Comment