Kamar Inspirasi YOGYAKARTA

Bersih dan Tulusnya Hati dalam Tradisi Masangin

Utkkatakami (4)
Written by Alpha Team

FeatPic-copy(press)

Angin bertiup sesekali membawa udara segar yang cukup melegakan. Sembari menikmati hembusan angin ini, Suar ngobrol-ngobrol dengan beberapa pedagang kaki lima yang berada di sekitar Alun-alun Kidul, salah satunya adalah Mas Tono yang berjualan Es Sari Tebu. Menurutnya, tidak ada arti yang baku dari Masangin. Istilah ini sudah ada sejak lama dan mungkin berarti Masuk di Antara 2 Pohon Beringin. Seperti halnya istilah ini, tradisi Masangin pun sudah berlangsung selama beratus-ratus tahun.

Konon, tradisi melewati celah antara kedua Beringin Kembar ini berasal dari kebiasaan para Prajurit Keraton dan Abdi Dalem merayakan malam 1 Suro. Mereka akan berkeliling Keraton sambil melaksanakan ritual tidak mengeluarkan satu suara pun yang disebut Topo Bisu. Masangin menjadi salah satu ritual yang ada di dalam perayaan ini sebagai permohonan berkah dan perlindungan bagi Keraton Yogyakarta. Masyarakat dan para Abdi Keraton sangat percaya, bahwa siapapun yang dapat melewati celah antara Beringin Kembar ini keinginannya akan dapat terwujud. Oleh karena itu, ketulusan serta kebersihan hati diperlukan dalam melakukan Masangin.

Choose (7) Choose (1) Choose (4)

Terkait ketulusan serta kebersihan hati ini, Ibu Giman yang berdagang minuman di sekitar Pohon Beringin Kembar ini menambahkan bahwa para Sultan yang memimpin Kerajaan Yogyakarta juga memanfaatkan Masangin sebagai sarana pencarian prajurit kepercayaan. Menurut Bu Giman, prajurit yang mampu melewati celah antara pohon Beringin Kembar ini akan dianggap terpercaya dan mungkin untuk dipilih sebagai kerabat Keraton. Pada akhirnya, ketulusan serta kebersihan hati inilah yang menjadi parameter Sang Sultan Yogyakarta untuk memilih.

Seiring perkembangan jaman, sekarang tradisi ini sudah tidak terlalu diperhatikan lagi. Namun, Masangin tetap dipercaya sebagai sarana “test” ketulusan serta kebersihan hati siapapun yang melakukannya. Barangsiapa yang berhasil melewati celah antara pohon Beringin Kembar ini dengan mata yang tertutup, konon keinginannya yang diminta sebelum melakukan Masangin akan terwujud. Karena dianggap sebagai seleksi, sudah tentu tidak mudah melakukan Masangin. Entah terkait sugesti diri atau memang ada unsur magis di balik tradisi ini, melewati dua pohon Beringin Kembar ini bukanlah perkara mudah. Dari 15 kali percobaan yang Suar lakukan, hanya 1 kali saja yang berhasil. Penutup mata pun dapat disewa dari para penjaja makanan yang ada di sekitar Beringin Kembar dengan harga 5000 rupiah saja. Hal ini kini jadi aktifitas yang sangat menarik bagi para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri, terutama untuk peningkatan pariwisata Yogyakarta.

Choose (5)

Masangin Alun2 Kidul Siang (1)Choose (3)

Sob, bicara soal tradisi kuno dan sejarah memang nggak ada habisnya. Terlepas dari kebenaran atau keberhasilan Masangin, tradisi ini adalah salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh Yogyakarta. Masangin mengajarkan tentang bagaimana pencapaian cita-cita akan lebih mudah terwujud bila dilakukan dengan hati yang bersih dan tulus. Bukan hanya hasil positif saja yang menjadi fokus, namun juga proses positif untuk meraihnya.

Panas terik Sang Mentari sudah berangsur memudar. Saatnya Suar bersiap keliling kota ramah di selatan Pulau Jawa ini. Angin senja yang mulai terasa pun menghantarkan ke aktifitas selanjutnya. Istirahat siang singkat di Alun-alun Kidul ini sangat berkesan dengan pelajaran kehidupan yang Suar dapatkan. Bagi Sobat Suar yang mungkin belum pernah melakukan Masangin, Suar rekomendasikan harus mencobanya. Selain memiliki kisah sejarah yang menarik di baliknya, Masangin juga akan mengajarkan banyak nilai positif untuk kehidupan.

(@phosphone I Suar)

Leave a Comment