DUNIA DINO Jelas Diulas

6 Hewan Masa Kini yang Tidak Mengalami Banyak Perubahan Sejak Masa Prasejarah

Judul-rev
Written by Suar

Sob, ternyata dunia ini masih terlalu besar untuk kita pelajari. Tapi, bukannya nggak mungkin kita mulai dari hal-hal yang menarik bagi diri kita. Mungkin kalau kita bicara soal Dinosaurus, kita akan berpikir bahwa mereka adalah hewan yang sudah punah dan nggak mungkin ada lagi di dunia. Kembali ke pernyataan Suar di awal tadi, ternyata masih banyak lho jenis hewan dari masa prasejarah yang hidup di masa modern ini. Mereka umumnya mengalami evolusi tapi tidak banyak berubah dari bentuk leluhur mereka jutaan bahkan ratusan juta tahun yang lalu. Oke, langsung aja Sob, ini dia beberapa yang Suar ulas:

  1. KEPITING TAPAL KUDA

Nama Latin                         : Limulus polyphemus, Carcinoscorpius rotundicauda, Tachypleus Gigas, Tachypleus tridentatus

Keberadaan di bumi       : Sejak 450 juta tahun yang lalu

Kepiting Tapal Kuda atau yang dikenal dengan sebutan Horshoe Crab adalah hewan tanpa tulang belakang yang dapat kita temui di wilayah perairan laut dangkal maupun pantai dan daerah berlumpur sekitar Samudera Atlantik, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Walaupun disebut kepiting, namun hewan ini bukanlah termasuk keluarga kepiting. Mereka adalah bangsa Crustacea yang justru lebih berkerabat dekat dengan Arachnids atau serangga. Bentuknya membulat dan tertutup cangkang menyerupai tapal kuda dengan ekor yang meruncing dan kaki yang cukup banyak layaknya hewan arthropoda. Ukuran hewan ini pun beragam, mulai dari sekitar 30 centimeter hingga lebih dari 1 meter.

Menurut sejumlah ahli, hewan ini sudah ada di muka bumi sejak sekitar 450 juta tahun yang lalu. Hal ini berarti umur keberadaan hewan ini di muka bumi jauh lebih lama daripada Dinosaurus. Walaupun berumur sangat tua dan telah melewati banyak masa evolusi bumi, namun bentuk hewan ini tidaklah banyak berubah dari leluhur mereka ratusan juta tahun lampau. Bila ada perubahan, mungkin hanya berupa ukuran tubuh saja yang semakin kecil.

Hewan yang juga disebut Mimi-Mintuno atau Belangkas ini mempunyai banyak peran dalam kehidupan bumi. Mereka adalah makanan bernutrisi bagi hewan lain di ekosistem mereka seperti burung atau ikan-ikan besar. Selain itu kandungan zat hemocyanin dalam darahnya bermanfaat besar sebagai salah satu ekstrak pembuatan vaksin anti bakteri bagi manusia.

Sumber:

http://myfwc.com/research/saltwater/crustaceans/horseshoe-crabs/facts/

https://www.smithsonianmag.com/science-nature/forget-dinosaurs-horseshoe-crabs-are-weirder-more-ancient-180963952/

 

  1. COELACANTH

Nama Latin                         : Latimeria chalumnae, Latimeria menadoensis

Keberadaan di bumi       : Sejak 360 juta tahun yang lalu

Coelacanth adalah jenis ikan purbakala yang sudah ada sejak 360 juta tahun silam dan saat ini masih dapat ditemukan di beberapa titik perairan laut dalam. Sebelum ditemukan kembali pada tahun 1938 di sekitar wilayah perairan laut dalam Afrika Selatan, ikan ini sudah dinyatakan punah sejak 65 juta tahun yang lalu. Ternyata keberadaan populasinya masih ada di antara celah-celah tebing pegunungan laut dalam dengan kedalaman hingga 200 meter lebih di bawah permukaan laut.

Coelacanths punya panjang tubuh mencapai 190 centimeter, berat hingga 90 kilogram, dan struktur tubuh yang masih serupa dengan leluhur mereka ratusan juta tahun lalu. Permukaan tubuh mereka ditutupi sirip seperti lapisan batu yang cukup keras dengan sirip belakang lebar dan sirip samping yang dapat berfungsi layaknya kaki. Hal unik lain dari ikan ini yang tidak dimiliki secara umum oleh jenis ikan modern adalah saluran berisi minyak bernama notochord yang berfungsi sebagai tulang belakang dan semacam sensor di bagian kepalanya untuk mendeteksi keberadaan mangsa.

Sampai saat ini, baru diketahui 2 spesies Coelacanths yang masih eksis di kehidupan bumi. Latimeria chalumnae berada di wilayah perairan dalam Kepulauan Komoro, Samudera Hindia dan Latimeria menadoensis yang berada di wilayah perairan dalam Menado Tua, Sulawesi Utara, Indonesia. Berdasarkan kondisi fisik dan keberadaannya saat ini, Suar pikir Coelacanths layak untuk disebut sebagai “Fosil Hidup”

Sumber:

http://vertebrates.si.edu/fishes/coelacanth/coelacanth_wider.html

https://www.nationalgeographic.com/animals/fish/group/coelacanths/

 

  1. KOMODO

Nama Latin                         : Varanus komodoensis

Keberadaan di bumi       : Sejak 3,8 juta tahun yang lalu

Ini dia, salah satu hewan purba yang jadi kebanggaan Indonesia. Bagaimana tidak, dari sekian banyak wilayah di dunia, hanya Pulau Rinca dan Pulau Komodo (Indonesia) saja yang jadi habitat asli reptil darat ini. Terlepas dari kebanggaan ini, beberapa penelitian tentang asal mula Komodo menyebutkan bahwa sebenarnya pada sekitar 3,8 juta tahun yang lalu nenek moyang Komodo yang dinamakan Megalania (bentuknya mirip Komodo namun memiliki panjang lebih dari 5 meter) hidup di wilayah daratan yang kini kita kenal sebagai benua Australia. Kemudian, sekitar 40.000 tahun silam, Megalania mulai punah dan berevolusi menjadi bentuk yang lebih kecil dan kita ketahui sebagai Komodo di masa modern ini. Setelah berevolusi, kawanan hewan purbakala ini pun diketahui berimigrasi ke wilayah Nusantara dan terisolasi dalam beberapa pulau yang diantaranya adalah Rinca dan Komodo. Sebab mereka berimigrasi memang belum dapat dipastikan, namun alasan terkuat adalah karena perubahan kondisi alam dan proses penyesuaian bentuk tubuh mereka yang semakin mengecil.

Komodo sendiri adalah jenis reptil yang memiliki banyak keunikan dibandingkan reptil modern lainnya. Kadal terbesar di dunia ini memiliki panjang tubuh yang dapat mencapai 3 meter lebih dengan berat mencapai 150 Kilogram. Sebagai bagian dari senjata sekaligus alat pertahanan, Komodo memiliki gigi-gigi kecil nan tajam yang dilengkapi dengan bakteri mematikan. Jadi, para mangsa Komodo cukup terkena satu gigitan dan dalam 24 jam akan mati lemas karena teracuni bakteri mematikan yang tersebar ke seluruh tubuhnya. Selain itu, Komodo juga dilengkapi cakar tajam pada setiap kakinya dan ekor yang cukup kuat untuk menjatuhkan lawan yang lebih tinggi daripada dirinya.

Kini hewan karnivora ini hidup di habitat aslinya yang sudah dijadikan Taman Nasional oleh pemerintah Indonesia. Walaupun demikian, Komodo akan terus dijaga sebagai hewan yang hampir punah. Keunikan serta keberadaan hewan purbakala ini membuatnya menjadi bagian dari salah satu warisan alam dunia dengan julukannya sebagai Naga (Komodo Dragon).

Sumber:

https://www.nationalgeographic.com/animals/reptiles/k/komodo-dragon/

https://www.livescience.com/9726-origin-komodo-dragon-revealed.html

 

  1. SOLENODON

Nama Latin                         : Solenodon paradaxus, Solenodon cubanus

Keberadaan di bumi       : Sejak 65 juta tahun yang lalu

Sob, jenis hewan yang umumnya diketahui mampu bertahan dari kepunahan selama jutaan tahun adalah makhluk yang hidup di air maupun jenis reptilia. Namun, mamalia yang satu ini adalah hewan yang diketahui sudah ada di bumi bersamaan dengan Dinosaurus sejak sekitar 65 juta tahun yang lalu. Solenodon namanya dan bentuknya kecil menyerupai tikus dengan panjang kurang lebih 30 centimeter dengan berat sekitar 1 kilogram. Konon walaupun tidak mengalami banyak perubahan selama berevolusi, namun ukurannya yang kecil inilah yang membuatnya mampu bertahan dari kepunahan karena hantaman keras meteor ke permukaan bumi jutaan tahun silam.

Ciri utama Solenodon yang membedakannya dengan tikus modern adalah bentuk hidung yang mengerucut dan ukuran badan yang relatif lebih besar. Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah racun yang tersalurkan melalui gigi-gigi tajamnya. Solenodon dikenal sebagai salah satu dari sedikit mamalia yang memiliki gigitan beracun sebagai mekanisma pertahanannya. Kini hanya ada dua spesies Solenodon di dunia, yakni Solenodon paradoxus yang hidup di daratan Eropa dan Solenodon cubanus yang berasal dari Kuba, Amerika Latin.

Sumber:

http://sains.kompas.com/read/2014/08/25/18113111/Mengenal.Solenodon.Si.Tikus.Raksasa.Berbisa

https://news.nationalgeographic.com/news/2009/01/090112-shrew-venom-video.html

https://www.smithsonianmag.com/science-nature/podcast-weird-wild-endangered-solenodon-180959940/

 

  1. SANDHILL CRANE

Nama Latin                         : Grus canadensis

Keberadaan di bumi       : Sejak 10.000 tahun yang lalu

Bangau Sandhill atau Sandhill Crane adalah salah satu jenis Bangau dari 15 spesies yang berkembang dengan jumlah populasi yang cukup baik. Populasi terbesarnya hidup di sekitar wilayah Amerika Utara hingga Amerika Tengah. Cakupan wilayah Sandhill Crane memang cukup besar karena jangkauan migrasi yang sangat jauh ketika musim dingin tiba. Burung ini dapat terbang ratusan kilometer dari wilayah Siberia hingga bagian selatan Amerika Serikat. Seperti Miami, Texas, bahkan negara Meksiko dan Kuba.

Sandhill Crane dikenal sebagai jenis burung terbang yang paling tinggi. Tubuh bangau ini dapat mencapai tinggi 130 centimeter dengan bentang sayap mencapai ukuran 2 meter. Bentuk tubuh burung ini cukup aerodinamis yang jelas mendukung berbagai penerbangan jauh yang mereka lakukan. Bangau Sandhill dapat dikenali dengan warna merah di dahinya dengan wajah putih dan bulu keabuan di tubuhnya. Ukuran serta ciri ini tidaklah banyak berubah sejak hampir 10.000 tahun yang lalu.

Sandhill Crane hidup dalam kelompok dan dikenal sebagai spesies burung yang sangat setia pada pasangannya. Sandhill Crane hanya kawin dengan 1 pasangan seumur hidupnya. Burung pemakan segala ini adalah salah satu burung prasejarah yang layak diberikan apresiasi karena jumlahnya yang masih cukup aman dari kepunahan, kecuali beberapa sub-spesies yang terisolasi seperti jenis yang hidup di Missisipi dan Kuba.

Sumber:

https://www.nationalgeographic.com/animals/birds/s/sandhill-crane/

https://www.allaboutbirds.org/guide/sandhill_crane/lifehistory

https://www.nature.org/newsfeatures/specialfeatures/animals/birds/sandhill-crane.xml

 

  1. HIU PARUT

Nama Latin                         : Chlamydoselachus anguineus

Keberadaan di bumi       : Sejak 80 juta tahun yang lalu

Sob, Ikan Hiu adalah satu diantara banyak ikan laut yang leluhurnya sudah hidup di bumi sejak puluhan juta tahun lalu, kemungkinan dari jaman yang sama dengan masa hidup Dinosaurus. Seiring perkembangan jaman, hiu pun mulai berevolusi dan terbagi-bagi jadi beberapa spesies berbeda. Beberapa yang umum kita kenal saat ini antara lain Hiu Mako, Hiu Paus, serta Hiu Kepala Palu. Namun demikian, ada juga beberapa spesies ikan Hiu yang merupakan jenis primitif dan masih ada hingga masa modern ini tanpa mengalami banyak perubahan pada struktur fisiknya.

Beberapa waktu lalu, para ilmuwan yang mempelajari kehidupan prasejarah dikejutkan dengan penemuan spesies primitif Hiu di wilayah perairan Portugal. Walaupun memiliki beberapa ciri layaknya hiu modern seperti insang dan posisi sirip di tubuhnya, namun Hiu primitif ini bertubuh panjang (sekitar 150-200 centimeter) menyerupai belut. Tidak hanya itu, gigi ikan ini juga sangat berbeda dengan gigi Hiu pada umumnya. Struktur gigi ikan Hiu ini berjumlah sekitar 300 dengan ketajaman yang tidak diragukan dengan susunan yang menyerupai alat parut. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan spesies Hiu kuno ini disebut sebagai Hiu Parut.

Sob, Hiu Parut diperkirakan sudah hidup di laut dalam bumi sejak 80 juta tahun yang lalu. Kini, wilayah penyebarannya diketahui untuk sementara di sekitar Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Berbeda dengan kerabatnya yang lebih modern, ikan Hiu jenis ini lebih suka menyendiri dan hidup di kedalaman antara 600 hingga 1000 meter di bawah permukaan laut. Oleh karena itu, tidak heran bila sangat jarang penyelam yang menemukan keberadaan spesies Hiu langka ini.

Sumber:

http://www.arkive.org/frilled-shark/chlamydoselachus-anguineus/

http://www.iucnredlist.org/details/41794/0

http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/11/punya-300-gigi-dan-kepala-mirip-ular-hiu-purba-yang-hidup-sezaman-dengan-dinosaurus-muncul-di-perairan-portugal

Leave a Comment