Kamar Inspirasi

Nongkrong: Antara Sosialisasi dan Eksistensi

nongkrong-8-e1508040425165
Written by Alpha Team

Hidup di wilayah perkotaan adalah sebuah tantangan tersendiri khususnya dalam hal bersosialisasi. Kondisi masyarakat yang beragam dengan latar belakang yang berbeda membuat masyarakat kota mau tidak mau akhirnya perlu untuk saling menyesuaikan diri. Sistem kehidupan yang terintegrasi dan penyesuaian diri masyarakat ini pun akhirnya membentuk kondisi sosial yang cukup unik yang terjadi secara terus menerus, bahkan menjadi sebuah gaya hidup perkotaan. Salah satu contoh hasil dari kehidupan bersosialisasi yang terjadi dan belakangan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan adalah fenomena nongkrong.

Sob, nongkrong sebenarnya adalah hal wajar dalam kehidupan masyarakat dan konon sudah terjadi sejak awal mula peradaban manusia. Kalau dilihat dari asal katanya, nongkrong punya arti sikap berjongkok dalam waktu lama sambil ngobrol satu dengan yang lain. Memang kata ini sendiri belum termasuk sebagai kata baku dalam bahasa Indonesia, tapi sudah populer digunakan bahkan mengalami pergeseran makna sejak awal 70’an. Saat ini, nongkrong sendiri secara umum dapat diartikan sebagai menghabiskan banyak waktu bersama seseorang atau beberapa orang sambil membicarakan topik tertentu di tempat tertentu. Dalam bahasa Inggris, nongkrong punya arti yang sepadan dengan hang out atau bergaul.

Nongkrong Sosialisasi

Sebagai makhluk sosial, manusia sudah tentu membutuhkan saat untuk bersosialisasi dengan manusia lain atau lingkungannya. Nongkrong adalah salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh manusia. Sob, kita butuh sosialisasi sama pentingnya dengan makan dan minum. Manusia tidak mampu hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya dalam hal fisik maupun mental. Nongkrong, Hang out, atau Gaul (istilah sekarang) ternyata membawa sosialisasi ke dimensi yang lebih populer dan lekat dengan kehidupan masyarakat, bahkan menjadi sebuah kebutuhan.

Pada masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Makassar, maupun Denpasar dan kota-kota besar di Indonesia lainnya, nongkrong tampaknya benar-benar sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Kebutuhan sosialisasi yang bercampur dengan trend bergaul semakin menjamur seiring dengan pembangunan kota dan perkembangan jaman ke arah yang lebih modern dari sebelumnya. Kondisi ini pun merangsang tumbuhnya tempat-tempat nongkrong seperti kafe, bar, restauran atau warung di setiap sudut perkotaan.

Seorang pemuda bernama Irfan yang tinggal di wilayah Jelambar, Jakarta Barat mengatakan, ”Nongkrong buat gue itu, satu ngilangin bete, terus gaul sama temen, tuker pikiran, tuker cerita, sama seru-seruan”. Menurutnya, kegiatan nongkrong adalah sebuah cara untuk me-refresh kejenuhan akibat padatnya kegiatan sebagai masyarakat perkotaan. Lebih jauh lagi, Irfan mengatakan bahwa dahulu ia melakukan nongkrong sebagai bagian melepaskan diri dari rutinitas semata, namun kini baginya nongkrong adalah sebuah kegiatan untuk bersenang-senang.

nongkrong-5Seiring perkembangan jaman, hal yang menarik terjadi adalah pergeseran makna nongkrong itu sendiri. Pada awalnya, nongkrong yang hanya bermakna sikap jongkok beralih menjadi jongkok di suatu tempat sambil berbincang tentang suatu hal. Pemaknaan ini pun kembali mengalami perubahan menjadi berkumpul, berbicara tentang sesuatu di suatu tempat dalam rangka bersosialisasi. Uniknya, di jaman para milennial kini istilah nongkrong pun menjadi semakin kompleks, bahkan punya kecenderungan bergeser dari makna yang sebenarnya.

Sob, kalau kita perhatikan saat ini kafe, bar, atau tempat-tempat nongkrong di kota besar semakin banyak dan beragam. Tapi, masyarakat perkotaan yang nongkrong di tempat-tempat itu sudah membawa unsur bersosialisasi berubah menjadi hal lain. Faktor keindahan dan kenyamanan tempat menjadi sesuatu yang sangat penting dalam gaya hidup nongkrong. Tempat yang tidak instagramable atau cozy dianggap tidak layak untuk dipilih sebagai lokasi nongkrong. Padahal, bila kembali ke makna awalnya, unsur penting dalam nongkrong adalah bersosialisasi. Tidak hanya itu, kebiasaan warga kota yang saling berbincang langsung saat mereka nongkrong pun mulai tergantikan dengan keberadaan gadget-gadget canggih seperti handphone maupun laptop. Agak aneh tapi seringkali tidak kita sadari, saat nongkrong banyak masyarakat kota yang justru fokus dengan handphone dan berbagai aplikasi di dalamnya ketimbang saling berbincang dan bersosialisasi dengan rekan-rekan nongkrongnya. Lebih jauh lagi, banyak orang yang nongkrong ramai-ramai tapi sibuk sendiri dengan peralatan canggih masing-masing hanya untuk sekedar pencitraan atau eksistensi. Mereka tidak ragu untuk berfoto dan mengunggahnya ke media sosial dengan caption berisi kata “nongkrong-nongkrong cantik” di dalamnya. Ini ironis, Bukankah nongkrong seharusnya bersosialisasi secara langsung dengan siapapun yang ada bersama kita dalam tongkrongan?

Lebih dari sekedar melihat dalam tataran benar dan salah, pergeseran makna ini ternyata cukup menarik sebagai fenomena. Kondisi ini tidak akan lepas dari faktor lain yang mempengaruhi, khususnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Situasi pertukaran informasi yang begitu cepat dan peningkatan daya beli konsumen membuat gaya hidup nongkrong semakin diminati sekalipun juga merubah banyak nilai dalam masyarakat perkotaan. Pada akhirnya, wacana apakah pergeseran ini buruk secara sosial akan kembali ke sudut pandang pribadi kita masing-masing. Selama tidak melanggar hukum dan merugikan orang lain, tampaknya fenomena pergeseran makna sosialisasi saat nongkrong menjadi sebuah eksistensi diri pun akan terus terjadi dan sangat mungkin semakin berevolusi.

Leave a Comment